Pernahkah kamu merasa tertarik untuk berinvestasi di saham, tapi bingung bagaimana menemukan saham yang punya potensi besar? Banyak investor sukses selalu mencari saham undervalue. Jika kamu bisa menemukannya, peluang untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang jadi lebih besar.
Tapi, bagaimana cara mengetahui saham yang tergolong undervalue? Tenang, artikel ini akan membahasnya secara lengkap!
Apa Itu Saham Undervalue?
Saham undervalue adalah saham yang diperdagangkan dengan harga lebih rendah dibandingkan nilai intrinsiknya. Artinya, saham ini sebenarnya memiliki kondisi fundamental yang baik, tetapi belum dihargai dengan semestinya oleh pasar.
Ciri-ciri Saham Undervalue
Sebelum berburu saham undervalue, penting untuk mengetahui ciri-cirinya:
- Rasio valuasi yang rendah: Saham undervalue biasanya memiliki Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV) yang lebih rendah dibandingkan rata-rata industrinya.
- Harganya rendah terhadap nilai intrinsik: Jika harga saham lebih rendah dari nilai intrinsiknya (yang dihitung berdasarkan analisis keuangan), saham tersebut bisa dikategorikan sebagai undervalue.
- Kinerja historis yang menurun: Beberapa saham undervalue memiliki riwayat penurunan harga karena berbagai alasan, meskipun fundamental perusahaannya masih kuat.
- Laba yang terus meningkat: Perusahaan dengan laba yang stabil atau terus bertumbuh, tetapi harga sahamnya tetap rendah, bisa menjadi indikasi undervalue.
- Nilai dividen yang tinggi: Saham dengan dividen tinggi namun harga yang tidak ikut naik bisa menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya menghargai nilai perusahaan tersebut.
- Perusahaan tidak terlibat skandal keuangan: Saham undervalue berasal dari perusahaan yang sehat secara finansial dan tidak terlibat masalah hukum atau skandal keuangan.
Penyebab Saham Bisa Undervalue
Saham menjadi undervalue bisa disebabkan oleh dua faktor utama: internal dan eksternal.
1. Faktor Internal Perusahaan
- Manajemen tidak kompeten: Jika manajemen kurang efektif dalam mengelola bisnis, investor cenderung menghindari sahamnya.
- Kinerja keuangan yang kurang memuaskan: Perusahaan dengan laporan keuangan yang lemah bisa membuat investor ragu meskipun sebenarnya memiliki potensi jangka panjang.
- Kurangnya popularitas perusahaan: Perusahaan kecil atau kurang dikenal sering kali memiliki saham undervalue karena kurang mendapat perhatian investor.
2. Faktor Eksternal Perusahaan
- Kondisi perekonomian global: Resesi atau ketidakpastian ekonomi global bisa menekan harga saham tanpa melihat fundamentalnya.
- Regulasi dan kebijakan pemerintah: Perubahan aturan pajak, hukum, atau kebijakan bisa mempengaruhi harga saham sementara.
- Sentimen negatif pasar: Berita buruk atau spekulasi negatif bisa membuat harga saham turun, meskipun perusahaan memiliki fundamental yang kuat.
Cara Menemukan dan Memilih Saham Undervalue
Jika kamu ingin berinvestasi di saham undervalue, berikut beberapa cara untuk menemukannya:
1. Pelajari Konsep Value Investing
Value investing adalah strategi utama dalam menemukan saham undervalue. Konsep ini mengajarkan untuk membeli saham yang harganya di bawah nilai intrinsiknya dan menahannya dalam jangka panjang.
Bagaimana cara mempelajarinya? Pelajari buku-buku investasi seperti The Intelligent Investor karya Benjamin Graham dan juga pelajari tentang analisis fundamental perusahaan melalui laporan keuangan.
Baca juga: Begini Cara Menghitung Nilai Wajar Saham yang Benar
2. Amati Kesehatan Keuangan Perusahaan
Kesehatan keuangan yang baik menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki potensi pertumbuhan meskipun harga sahamnya saat ini undervalue.
Bagaimana caranya? Lihat laporan keuangan tahunan, analisis rasio keuangan seperti Debt-to-Equity Ratio, tren pendapatan serta laba perusahaan.
3. Gunakan Indikator Valuasi (PER & PBV)
PER (Price to Earnings Ratio) dan PBV (Price to Book Value) adalah indikator utama untuk menilai apakah saham undervalue.
Bagaimana caranya? Bandingkan PER dan PBV suatu saham dengan rata-rata industri atau kompetitornya untuk melihat apakah harganya lebih murah dari nilai wajarnya.
4. Evaluasi Kompetitor Perusahaan
Membandingkan perusahaan dengan pesaingnya dapat memberikan gambaran apakah saham perusahaan tersebut undervalue atau memang memiliki masalah fundamental.
Bagaimana caranya? Analisis laporan keuangan kompetitor dan bandingkan rasio keuangan, pertumbuhan pendapatan serta strategi bisnis mereka.
5. Fokus pada Sektor yang Memiliki Prospek yang Baik
Saham undervalue di sektor yang sedang berkembang berpotensi memberikan keuntungan besar dalam jangka panjang.
Sektor yang menjanjikan? Sektor yang umumnya memiliki prospek baik antara lain teknologi, kesehatan, energi terbarukan dan infrastruktur.
Contoh Saham Undervalue di Indonesia
Berikut beberapa saham undervalue di Indonesia yang menarik untuk dipertimbangkan:
1. SPTO (Surya Pertiwi Tbk)
- PER dan PBV rendah dibanding rata-rata sektor industri.
- Laba perusahaan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
- Beroperasi di sektor yang stabil dengan permintaan tinggi.
2. AADI (Adaro Minerals Indonesia Tbk)
- Saham batu bara yang undervalue dengan prospek ekspor yang baik.
- Dividen yang menarik bagi investor jangka panjang.
- Fundamental keuangan yang solid meskipun sentimen pasar fluktuatif.
3. TSPC (Tempo Scan Pacific Tbk)
- Perusahaan farmasi dengan pendapatan yang stabil.
- Harga saham lebih rendah dibandingkan nilai intrinsik perusahaan.
- Tidak banyak dilirik investor meskipun memiliki prospek jangka panjang.
Menemukan saham undervalue butuh kesabaran dan riset yang mendalam. Banyak saham yang terlihat murah, tetapi tidak semuanya benar-benar undervalue. Dengan memahami konsep value investing dan menganalisis perusahaan dengan cermat, kamu bisa menemukan peluang investasi yang menguntungkan.
Jangan ragu untuk terus belajar dan memperdalam wawasanmu di dunia investasi. Semakin banyak pengetahuan yang kamu miliki, semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan finansial!






Tinggalkan Balasan